Delapan Tokoh Masuk Bursa Ketum PBNU Jelang Muktamar di Jombang, Berikut Profilnya

by -6 Views
banner 468x60

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026, dinamika pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 kian menghangat. Sejumlah tokoh telah menyatakan kesiapannya maju, sementara nama lainnya terus bermunculan seiring dukungan dari kalangan kiai, pengurus wilayah, hingga aktivis Nahdliyin.

banner 336x280

Survei Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) yang digelar pada 20-28 Juli 2026 mencatat sedikitnya delapan nama yang paling banyak diperbincangkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Mereka adalah KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Prof KH Nasaruddin Umar, KH Imam Jazuli, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta KH Abdussalam Shohib (Gus Salam).

Berikut profil singkat para tokoh yang muncul menjelang Muktamar ke-35: 

1. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)

Ketua Umum PBNU petahana, KH Yahya Cholil Staquf, menyatakan kembali maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026-2031. Menurutnya, pencalonan kembali dilakukan untuk menuntaskan berbagai program yang telah dijalankan selama masa kepemimpinannya.

Lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1966, Gus Yahya merupakan putra KH Cholil Bisri sekaligus keponakan budayawan sekaligus ulama KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).

Pendidikan pesantrennya ditempuh di Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, yang didirikan sang kakek, KH Bisri Mustofa. Selanjutnya ia memperdalam ilmu di Pesantren Krapyak, Yogyakarta, di bawah bimbingan KH Ali Ma’shum. Selain pendidikan pesantren, ia juga pernah menempuh studi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kariernya di tingkat nasional dimulai ketika dipercaya menjadi juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1999-2001. Di lingkungan NU, ia pernah menjabat Katib Aam PBNU periode 2015-2021 sebelum terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-34.

Gus Yahya juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) serta masuk dalam daftar “The 500 Most Influential Muslims” berkat kiprahnya dalam mendorong perdamaian dan dialog antarbangsa.

2. KH Zulfa Mustofa

KH Zulfa Mustofa menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka menyatakan kesiapannya mengikuti kontestasi Ketua Umum PBNU periode 2026-2031. Ulama kelahiran Jakarta, 7 Agustus 1977 ini berasal dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat.

Ayahnya, KH Muqarrabin, merupakan ulama asal Pekalongan, Jawa Tengah, sedangkan ibunya, Nyai Hj Marhumah Latifah, berasal dari Kresek, Banten. Dari garis keturunan ibunya, Kiai Zulfa masih memiliki hubungan keluarga dengan Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin. Ia merupakan cucu Nyai Hj Maimunah, ibu KH Ma’ruf Amin, sehingga juga memiliki keterkaitan nasab dengan ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi al-Bantani.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Jakarta sebelum melanjutkan sekolah di Pekalongan. Ia kemudian belajar di MTs Salafiyah Simbangkulon dan melanjutkan pendidikan di madrasah kawasan Kajen, Margoyoso, Pati, yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan pesantren di Jawa Tengah.

Selama menimba ilmu di Kajen, Kiai Zulfa berguru kepada almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh dan KH Rifai Nasuha. Seusai menyelesaikan Madrasah Aliyah pada 1996, ia sempat berencana melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah. Namun, rencana tersebut batal setelah sang ayah wafat pada malam Idul Fitri. Sejak itu, ia memilih meneruskan perjuangan ayahnya berdakwah dan membina masyarakat.

Pada usia 19 tahun, Kiai Zulfa telah membimbing sekitar 15 majelis taklim. Empat tahun kemudian, ia mendirikan Majelis Taklim Darul Musthofa yang hingga kini menjadi salah satu pusat dakwah dan pembinaan umat. Kiprahnya yang konsisten membuat namanya dikenal luas di kalangan warga Nahdliyin.


banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.