
Simulasi atau pelatihan tanggap bencana yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) berkolaborasi dengan InJourney Destination Management (IDM) di SMA I Kalasan, Jumat (22/5/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Peringatan 20 tahun gempa besar Yogyakarta dimanfaatkan untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di sekolah-sekolah rawan terdampak. Salah satunya dilakukan di SMAN 1 Kalasan. Sekolah ini menggelar simulasi tanggap bencana gempa bagi para siswa.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program penguatan sekolah siaga bencana yang digelar bersama Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan InJourney Destination Management (IDM), Jumat (22/5/2026). Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan mengatakan, penguatan kesiapsiagaan di sekolah menjadi penting karena gempa bumi merupakan bencana yang bisa terjadi kapan saja tanpa bisa diprediksi.
“Acara hari ini menjadi bagian dari kita semuanya memperingati 20 tahun gempa bumi di Jogja dan Jawa Tengah. Kenapa sekolah? Karena kita tahu banyak sekali sekolah yang ada di daerah rawan bencana. Secara nasional ini ada sekitar 250 ribu sekolah yang ada di daerah rawan bencana. Macem-macem ada di daerah rawan gempa bumi, tanah longsor, banjir dan sebagainya dari seluruh wilayah Indonesia,” katanya saat dijumpai usai acara pelatihan tanggap bencana di SMA I Kalasan, Jumat (22/5/2026).
Lilik menjelaskan, secara nasional terdapat sekitar 250 ribu sekolah yang berada di kawasan rawan bencana, mulai dari gempa bumi, banjir hingga longsor. Karena itu, sekolah menjadi titik penting dalam edukasi mitigasi bencana. Dia menekankan agar gempa Jogja yang pernah terjadi pada 2006 lalu, harus terus dijadikan memori kolektif agar masyarakat tidak melupakan ancaman bencana yang sewaktu-waktu dapat kembali terjadi.
Menurutnya, tidak ada manusia maupun institusi yang mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi. Karena itu, satu-satunya langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat kesiapsiagaan sejak sekarang.
“Gempa bumi di Jogja 20 tahun yang lalu itu harus kita jadikan memori kolektif bangsa kita. Jangan sampai kemudian kita lupa dan kita mencoba mengingkari, dulu nggak pernah ada kok gempa bumi. Itu membuat kesiapsiagaan kita rapuh,” ujarnya.
Dalam simulasi di SMAN 1 Kalasan, para siswa dilatih menghadapi situasi darurat ketika terjadi gempa, mulai dari proses evakuasi hingga langkah penyelamatan diri. Sekolah tersebut menjadi sekolah ke-10 di DIY yang mendapat penguatan kesiapsiagaan bencana.
“SMA 1 Kalasan adalah sekolah yang ke-10 di Jogja yang sudah diperkuat dan akan terus bekerja, bekerja, dan bekerja. Ini adalah salah satu investasi kita dalam penanggulangan bencana di Indonesia,” kata Lilik.












