Wisata Jogja Tumbuh Pesat (sampai kapan)?

Tidak bisa dipungkiri lagi daya tarik Yogyakarta sebagi tujuan wisata menjadi magnet tersendiri dari wisatawan nusantara. Rekam sejarah Yogyakarta sebagai generasi penerus Mataram Islam dan perenya dalam kemerdekaan menjadikan kota ini senagai tujuan wisata. Sehingga tidak hewan jika masa liburan tiba banyak wisatawan yang menyerbu ke berbagai obyek wisata di Yogyakarta.

Banyaknya wisatawan yang berkunjung berimbas pada meingkatkan kebutuhan kamar yang ada di Jogja. Para penanam modal menyadari hal tersebut dengan membangun akomodasi hotel. Pada satu sisi hal tersebut merupakan peningkatan kualitas dan kuantitias akomodasi bagi wisatwan. Namun jika tidak dibarengi dengan rencana pengembangan tata kota yang tertata, niscaya pada beberapa tahun ke depan, pusat Jogja akan bisa kolaps. Kenapa hal tersebut terjadi. Penumpukan masa membuat arus lalu lintas menjadi semramut. Selain itu bangunan hotel sejatinya merupakan sampah visual. Misalkan saja pada area Jl Mangkubumi. Area ini dikenal dengan icon Tugu Jogja. Selain itu pada area ini adalah sebuah area konservasi budaya dimana bangunan bangunan yang unik berdiri. Namun sekarang banyaknya hotel bertingkat menjadikan kesan semrawut.

Gimana nggak bikin betah. Hamparan pasir putih dan birunya air laut pasti akan menggoda kita untuk berlama lama

Gimana nggak bikin betah. Hamparan pasir putih dan birunya air laut pasti akan menggoda kita untuk berlama lama

candi-borobudur.jpg

Saat ini pemusatan aktifitas dan pariwisata masih berada di kawasan Malioboro. Padahal tingkat kepdatan penduduk dan aktifitas yang terlalu tinggi akan berimbas pada pergesekan yang cenderung negative. Kriminalias akan meningkat secara otomasis.Memang saat ini belum terlelu mengemuka, namun kalau tidak dicegah haltersebu tpasti akan terjadi.

PIlar pembangunan DIY bertumpu pada tiga sektor utama yakni Pendidikan, Budaya dan Pariwisata. Ketiga sektor tersebut memang merupakan tulang punggung penggerak ekonomi Yogyakarta. Pada sektor budaya dan pariwisata memang bagaikan dua sisi mata uang. Namun memng dibutuhkan master plan pengembangan pariwisata yang terarah. Misalkan saja dengan mengembangkan daya tarik wisata selain pada tiga segitiga emas yakni Kraton – Borobudur – Prambanan. Variasi DTW juga harus dikembangkan lagi. Utamanya untuk memperluas sebaran kunjungan wisata.

Kampung wisata dan desa wisata di Yogyakarta

Saat ini Yogyakarta mempunyai desa wisata yang sangat banyak. Bahkan lebih dari 70 desa wisata yang tersebar di empat kabupaten yakni Sleman, Bantul, Kulonprogo dan Gunung Kidul. Paling banyak tersebar di Kab Sleman. Belum lagi Kota Yogyajarta yang menggalakan Kampung Wisata. Pertumbuhan tersebut diharapkan diimbangi dengan kualitas yang memadai. Desa atau kampung wisata diharapkan dapat menerima dan siap untuk dikunjungi. Tidak hanya membuat desa wisata untuk mendapatkan program PNPM saja ya..

Pertumbuhan wisata di Gunung Kidul

Saat ini Kabupaten Gunung mengalami pertumbuhan wisata yang signifikan. Kekayaan alam di Guunung Kidul mulai terangkat sebagi tujuan wisata yang potensial. Beberpa obyek wisata baru semisal Gua Pindul, Air Terjun Sri Getuk, Gunung Purba Nglanggeran, Pantai Indryanti dan jajaran pantai indahnya mulai diekspos kepada calon wisatawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


5 + 7 =