Pernikahan Putri Sri Sultan: GKR Hayu dan KPH Notonegoro

Pernikahan Putri Sri Sultan HB X kali ini akan menjadi pernikahan paling akbar di Indonesia. Bukan karena bertempat di gedung mewah seperti dunia gemerlap di ibukota. Namun karena merupakan resepsi budaya yang diikuti dan dicermati oleh masyarakat luas.

Kali ini Ngarsa Dalem akan menikahkan putrinya untuk yang terakhir kali. Tentu saja bisa jadiakan menjadi helatan terakbar dari Kraton Jogja. Sri Sultan akan menikahkan putrinya yakni GKR Hayu dan KPH Notonegoro pada 22 Oktober  mendatang.

GKR Hayu atau sebelumnya bernama GRA Nurabrajuwita resmi dipersuntung pria bernama Angger Pribadi Prabowo yang saat ini bergelar KPH Notonegoro.

pernikahan-putri-sri-sultan

Prosesi pernikahan

Kalau pada rakyat biasa yang menikahkan adalah petugas KUA maka beda dengan pernikahan Kraton Yogya. Sultan menikahkan mempelai kemudia petudas dari KUA akan mencatat secara resmi pernikahan termasuk dengan surat surat terkaitnya. Prosesi akad nikah hanya dihadiri oelh pengentin pria. Selain itu prosesi ijab qabul di Masjid Panepen disaksikan abdi dalem kaji, penghulu keratin dan juga kerabat kraton lainnya.

Nah untuk acara yang menarik adalah acara panggih. Acara yang berlangsung di Bangsal Kencana ini adalah momen dimana pengantin pria dan wanita akan bertemu. Yang menarik adalah saat prosesi “Bopongan”. Jika pengantin pria berasal dari rakyat biasa maka pengantin pria akan membopong pengantin wanita dibantu oleh paman dari pengantin wanita.

Kirab Kereta

Sebagi moment terakhir penikahan putri sultan, maka saat resepsi pernikahan di Kepatihan Jl Malioboro, Sultan akan menggunakan kereta dari Kraton menuju Kepatihan. Kalau pada pernikahan putrid sebelumnya Sultan dating menggunakan mobil.

Begitu juga dengan pengantin. Mereka akan menggunakan kerete Kayi Jongwiyat untuk menuju kepatihan. Untuk menarik kereta kencana tersebut  dipihkan kuda kuda terbaik. Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) DIY, kuda juga didatangkan dari Kavaleri Bandung. Khusus untuk kereta penganti akan menggunakan kuda berwarni putih

 Awal pertemuan

Membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk Angger Pribadi Prabowo untuk meyakinkan Putri Sri Sultan HB X,  GRA Nurabrajuwita untuk dapat menjadi pendampingnya.

Mereka berdua memang menjalin pacaran selama 10 tahun. Sebuah waktu yang lama untuk saling mengenal dan mengerti. Mereka yang saat ini sudah mendapatkan nama baru KPH Notonegoro dan GKR Hayu mulai mengenal dekat di New York pada 2012. Saat itu GRA Nurabrajuwita sedang mengikuti pelatihan dan bertemu dengan seorang pria dari Kudus yang sedang kuliah di  jurusan ekonomi pembangunan sebuah universitas di Washington. Sedangkan Jeng Abra sendiri sedang kuliah di New Jersey.  “Waktu itu saya dititipi Kanjeng Ratu. Saya disuruh jemput jeng Hayu untuk berangkat ke sekolah,” kata Angger menceritakan awal perkenalanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


4 + 1 =