Dewan Kebudayaan Kritik Penataan Malioboro

“Seharusnya Malioboro tidak hanya untuk pusat belanja, tapi untuk kepentingan spiritual. Tahun 70-an, ada orang-orang yang membangun suasana kebudayaan dan intelektual yang jauh dari hiruk-pikuk perekonomian, sehingga Malioboro menjadi pusat reflektif,” ujar Charis Zubair  kepada KRjogja.com, Kamis (21/6/2012).

Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta Charis Zubair mengkritik penataan kawasan Malioboro  dan selama ini Pemerintah Kota Yogyakarta fokus pada sektor ekonomi. Bahkan, berharap dikembalikan pada fungsinya sebagai pusat intelektualitas dan refleksi.

Menurut Zubair Malioboro masih berfungsi sebagai pusat perekonomian dan hal kecil tidak pernah diperhatikan seperti bau pesing di dekat Kepatihan. Hal ini menunjukkan program hanya beriorientasi proyek tanpa memahami sosio kultural. Padahal Malioboro menjadi pusat perhatian berbagai kepentingan, mulai dari politik, ekonomi, hingga sosial budaya.

“Boleh saja perekonomian di Malioboro dikembangkan, namun harus tetap memperhatikan sejarahan filosofi budaya dan tata bangunan warisan yang ada. Jangan hanya meniru penataan seperti yang dilakukan kota lain. Imej Yogyakarta dicerminkan dari Malioboro. Tidak harus sama dengan kota lain. Sisi bangunan harus diperhatikan, ekonomi kerakyatan harus dipertahankan,” lanjutnya.

Zubair menambahkan hal lain yang perlu diperhatikam adalah masalah keamanan dan jangan sampai pedagang mematok harga terlalu tinggi sehingga konsumen merasa ditipu. “Ada tukang becak yang awalnya mematok harga rendah, tapi lalu memaksa mengantar ke berbagai tempat wisata yang tak diinginkan, sehingga tetap mahal. Ini tidak boleh terulang,” pungkasnya. krjogja.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


1 + 7 =